Register
#Review : Harry Potter Yang Selalu Menakjubkan
Karya:
Penulis Vareza Noorliko
Tanggal 2017-11-05 00:27:03
Tulisan

Bam! Baru halaman 18, saya sudah menutup kisah terbaru Harry Potter yang sedang saya baca. 18 halaman yang membawa imajinasi terbang, menjadikan saya tersenyum-senyum dan dada disesaki kerinduan. Lalu tersadar, semakin saya membaca, artinya kan semakin mendekati akhir cerita. Masih ada ratusan halaman tersisa, tapi saya nggak pengen buru-buru selesai. Ibarat makan kue Nastar enak, pengen diirit-irit biar lama abis. Tapi… Seperti kisahnya yang penuh pesona sihir, sihir untuk membuka lagi buku ini pun kuat. Dan ya, meski dalam kondisi berdiri di atas kereta dan TransJakarta, saya pun lanjut membaca, hingga tuntas dalam 6 jam. Paling-paling terpotong makan, mandi dan ke toilet. Now, the review. Harry Potter and the Cursed Child bukan novel seperti ketujuh buku sebelumnya. Cerita asli memang ditulis oleh J.K. Rowling sendiri, beserta John Tiffany dan Jack Thorne, tapi buku ke-8 ini formatnya berupa skrip drama; drama oleh Jack Thorne yang disebut J.K. Rowling sebagai seseorang yang telah memasuki dunianya (Rowling) dan melakukan hal-hal indah di sana (dunia Harry Potter). “To Jack Thorne, who entered my world and did beautiful things there.” -J.K. Rowling Berlatar 19 tahun sejak kemenangan melawan Kau-Tahu-Siapa, kisah Harry Potter and the Cursed Child terkesan sepotong-potong, dan tidak berisi deskripsi cerita sedetail novel; tapi kamu yang sudah melahap ketujuh novel Harry Potter dijamin mudah membayangkan tiap adegan yang ada. Imajinasimu dibikin bergerak liar. Sejak halaman-halaman awal kita telah digiring untuk mengetahui bahwa kisah Harry Potter and the Cursed Child akan berada seputar Albus Severus Potter, anak kedua Harry. 48 halaman pertama beralur cepat dan lumayan melompat dari tahun pertama Albus di Hogwarts sampai tahun ke-4. Namun setelah itu, konflik sesungguhnya mulai ditampilkan. Mulai dari Albus dan Scorpius (anak semata wayang Draco Malfoy) yang melompat keluar Hogwarts Express, kening Harry yang kembali terasa sakit, seseorang yang mati hidup kembali, dia yang telah musnah ternyata masih menyisakan keturunan… Dan, apakah Harry serta Draco masih saling bermusuhan mengetahui kedua anak mereka hilang? Satu per satu tokoh yang sudah sangat kita kenal tampil membangun cerita. Yes, it’s a reunion! Beberapa karakter baru memiliki porsi mereka masing-masing. Porsi yang besar. Secara personal saya sangat menyukai Scorpius Malfoy, bocah yang karakternya seperti gabungan si brilian Hermione Granger dan si lucu Ron Weasley. Buat saya dia adalah tokoh bintangnya. Seperti tujuh judul sebelumnya, Harry Potter and the Cursed Child, meski mengambil tempat di dunia sihir, tetap berisi kisah yang nyambung dengan kehidupan kita sehari-hari di dunia manusia. Bukan hanya tentang persahabatan, tapi juga tentang keluarga. Tentang ikatan darah. Terlepas dari petualangan menyelamatkan dunia sihir, pembaca Harry Potter usia dewasa seperti saya bisa ikut memahami rasanya menjadi Harry yang kini berusia menjelang 40 tahun, menghadapi Albus si pemberontak. Pembaca remaja pun bisa mengerti rasanya menjadi Albus, hidup dengan tuntutan sekitar, merasa tidak mendapat celah untuk membuktikan diri sendiri, merasa tidak sehebat ayahnya; ditambah fakta dirinya masuk Slytherin dan berteman baik dengan Scorpius Malfoy. Yang pasti, buku skrip drama Harry Potter and the Cursed Child tidak kalah mengesankan dibanding ketujuh novel di belakangnya. Tetap bikin kita terlarut dalam pesona dunia sihir, dan tetap bikin buku ini susah ditutup sebelum mencapai halaman terakhir. Wajib dibikin film! Atau mungkin dramanya bisa dibawa ke Indonesia? Mari kita panjatkan doa. Selamat tersenyum, tertawa, tegang, penasaran, menitikkan air mata, dan (mungkin) jatuh cinta pada Scorpius Malfoy (seperti saya)..