Register
ENTROK: Pekerjaan Rumah Belum Selesai
Karya:
Penulis Pertiwi Yuliana
Tanggal 2018-01-22 07:08:59
Tulisan

Berlatar masa orde baru pada tahun 1950-1994, dikisahkan mengenai kehidupan dua tokoh perempuan yang begitu bertolak belakang. Uniknya, mereka ada di dalam satu ikatan darah, ibu dan anak perempuannya.

 

 

 

Diawali dari kisah Sumarni, atau yang akrab disapa dengan Marni, yang hidup dalam keluarga yang cukup sulit. Bersama ibunya, Marni menjalani hari-harinya dengan menunggu ibunya pulang dari pasar membawa bahan makanan lalu memasaknya. Hingga suatu ketika, seperti layaknya perubahan biologis yang terjadi pada tubuh anak perempuan yang beranjak dewasa, dadanya mulai mringkili.

 

 

 

Ternyata, Marni mulai merasakan ketidaknyamanan akan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Dia merasa pergerakan tubuhnya tidak sebebas biasanya karena ada gumpalan asing yang menempel di dadanya. Namun, dia tidak melihat ketidaknyamanan yang sama dirasakan oleh Tinah, sepupunya yang juga sedang mengalami pertumbuhan yang sama.

 

 

Dari sinilah kita akan mengenal kata entrok. Aku pribadi, awalnya masih sangat asing dengan kata tersebut. Apaan, sih, ini? Namun, Okky Madasari menjawab rasa penasaranku dalam timing yang cukup tepat. Entrok merupakan penyanggah dada atau yang sering kita kenal dengan BH (breast holder) dalam bahasa Jawa. Baiklah, sebagai anak dari keluarga suku Jawa, kumerasa gagal karena sama sekali asing dengan kata tersebut. Terima kasih, Mbak Okky, sudah memperkenalkan saya dengan entrok… setelah saya menggunakannya sekian tahun lamanya.

 

Berangkat dari perkenalannya dengan entrok yang digunakan Tinah sehingga membuat Tinah tidak merasakan ketidaknyamanan yang dirasakannya, Marni bertekad untuk memilikinya juga. Namun, setelah menyampaikan hal tersebut kepada ibunya, ibunya menolak untuk membelikan Marni entrok. Karena ternyata, entrok merupakan barang yang mahal pada masanya. Jadi, bukan sekadar pakaian dalam seperti pandangan masyarakat masa kini.

 

 

 

“Oalah, Nduk, seumur-umur tidak pernah aku punya entrok. Bentuknya kayak apa juga tidak tahu. Tidak pakai entrok juga tidak apa-apa. Susuku tetap bisa diperas to. Sudah, nggak udah neko-neko. Kita bisa makan saja syukur,” kata Simbok, Entrok, halaman 17.

 

 

 

Bagiku, Okky Madasari sangat pandai mengemas cerita di dalam novel pertamanya ini, Entrok. Tentang bagaimana beliau membangun cerita perjuangan perempuan yang dimulai dari tokoh Marni yang mulai beranjak remaja hingga dewasa dan memiliki putri kebanggaan, Rahayu. Dari hal yang begitu sederhana, pakaian dalam.

 

 

 

Kemudian, dengan nakalnya aku menyimpulkan bahwa pakaian dalam—dalam hal ini entrok—di novel ini menganalogikan sebuah niat yang kuat dari dalam diri seseorang. Aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika manusia mau berdoa dan berusaha. Tentunya, dasar dari doa dan usaha itu adalah niat yang kuat dari dalam diri manusia itu sendiri. Seperti yang digambarkan Okky Madasari.

 


Ya, orang hidup hanya butuh punya harapan. Lalu dia akan merasa punya jiwa dan semangat.” — Sumarni, Entrok, halaman 277.

 

Subordinasi terhadap perempuan pun tampak sangat jelas tergambar pada masa di mana Marni berusaha mencari uang untuk dapat memiliki entrok. Dia bekerja di pasar bersama ibunya sebagai pengupas singkong, tapi sayangnya upah untuk para pekerja perempuan bukanlah uang. Melainkan hanya berupa bahan-bahan makanan.

 

 

Namun, Marni tidak kehabisan akal. Selain menampakkan tekad yang kuat untuk mencapai tujuannya, Okky Madasari juga memperlihatkan secara tidak langsung bagaimana upaya perempuan untuk dapat dianggap setara dengan laki-laki lewat tokoh Marni. Jujur saja, aku sangat menikmati cerita Marni dengan berbagai perjuangan kerasnya hingga ia bisa berhasil mencapai keinginan sederhananya hingga membuat kehidupannya aman di masa tuanya.

.